/ber·u·bah/

Semua orang berubah.

Saya baru benar-benar sadar tentang hal ini waktu bulan lalu Papa-Mama datang ke sini untuk berkunjung. Selama ini saya tidak pernah terlalu memikirkan hal-hal teoritis seperti ini karena saya lebih suka mengalaminya secara langsung.

Beberapa orang yang saya kenal sangat suka memberi ‘label’ dan membuat penjelasan untuk setiap hal yang terjadi dalam hidupnya supaya bisa ‘masuk akal’. Menurut saya pribadi, beberapa hal di hidup ini akan lebih seru jika dibiarkan menjadi misteri. Lagipula kita bukan makhluk yang serba tahu. Beberapa hal memang terjadi demikian dan sebagus apapun teori yang kita buat, belum tentu itu benar. Jadi, buat apa buang-buang waktu memikirkan hal yang MUNGKIN benar. Tapi itu hanya pikiran saya.

Kembali ke topik, waktu kemarin saya dan Papa pergi membeli makan, kami berbincang sedikit sambil menunggu masakannya jadi. Saya bercerita tentang bagaimana saya cukup khawatir mengenai hidup saya setelah selesai sekolah di Melbourne. Teman-teman SMA belum tentu semuanya akan kembali dan bekerja di kota yang sama. Lebih lagi, karena keterbatasan waktu dan jarak, kita sudah jarang sekali berjumpa dan berbincang seperti dulu. Topik yang dibicarakan pun mulai terbatas karena hidup yang dijalani sudah berbeda.

Lalu, seperti biasa, Papa memberi jawaban yang sampai sekarang masih saya pikirkan. Saya tidak begitu ingat kata-kata persisnya, tapi inti dari jawabannya adalah:

“Teman itu hanya sementara. Hidupmu akan terus berjalan dan setiap orang akan berubah. Kamu akan berubah dibentuk oleh lingkunganmu di sini dan begitu juga dengan teman-temanmu akan dibentuk oleh lingkungan mereka. Mungkin nantinya kalian masih bisa cocok, mungkin juga tidak.”

Saat mendengar itu, saya langsung kaget menyadari bahwa itu benar.

Lalu saya mulai berpikir, apakah itu berarti nanti saat saya kembali ke Indonesia, saya hanya akan menjadi ‘bagian’ dari ingatan teman-teman kuliah saya yang memilih untuk tetap tinggal di sini?

Saya setengah sedih memikirkan hal ini. Di satu sisi, saya menyukai konsep perubahan ini karena berarti saya tidak terikat dengan siapapun. Namun sisi yang lain, saya sedih bahwa persahabatan hari ini belum tentu berlanjut sampai nanti.

Ya, ya, mungkin sekarang sudah ada bantuan teknologi dan segala macam. Tapi saat berjumpa, tidak semua hal bisa diceritakan. Kita pasti memilih untuk membicarakan hal-hal secara garis besar, padahal hal-hal kecillah yang membuat momen itu berarti.

Tapi tetap saja, tidak ada yang tidak mungkin bila diusahakan. Kalau kedua belah pihak tidak menyerah untuk selalu terhubung, mungkin rasa ‘asing’ itu tidak akan tumbuh terlalu cepat walaupun itu tidak lantas menutup jurang yang memisahkan.

Karena itu, mungkin kesimpulan yang saya bisa diambil adalah bagaimana kita harus bisa menjalani hidup yang sepenuhnya, dimanapun kita berada. Menikmati setiap detik yang berlalu dengan orang – orang yang saat ini ada di sisi kita karena momen ini tidak bisa diulang dan kamu yang hari ini tidaklah sama dengan kamu yang besok.

🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s